0

ETIKA REMAJA DALAM BERKENDARA


“ETIKA REMAJA DALAM BERKENDARA”
PEMILIHAN PELAJAR PELOPOR KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI, BUDAYA DAN PARIWISATA
KOTA SALATIGA
2013

NIKEN LARASATI A
MAN SALATIGA
Jl.K.H Wahid Hasyim no 12, Salatiga
(0298) 323031

Abstraksi
Tingkat kecelakaan lalu lintas semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran dalam berkendara bagi masyarakat. Tidak dipungkiri bahwa kendaraan adalah suatu hal yang sudah wajar dan wajib untuk dimiliki masyarkat demi memenuhi fasilitas mobilitas yang tinggi. Namun, pada kenyataannya tidak dibarengi dengan sikap sadar tata tertib lalu lintas sehingga pengendara bersikap seenaknya tanpa memerdulikan hak pengguna jalan lain.
      
       Data WHO memperkirakan bahwa di tahun 2020 penyebab terbesar kematian adalah kecelakaan di jalan raya tepat di bawah penyakit jantung dan depresi. WHO mencatat bahwa 1 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya di seluruh dunia akibat kecelakaan, dimana 40% diantaranya berusia 25 tahun dan 60 % berusia < 25 tahun yaitu berkisar pada usia anak-anak dan remaja. Sementara itu jutaan lainnya mengalami luka parah dan cacat fisik.
Pada umumnya korban lalu lintas di jalan raya mayoritas adalah remaja (anak-anak sekolah dan mahasiswa).  

Para remaja menggunakan sepeda motor lebih bukan pada pemanfaatan transportasi namun pada life style atau trend. Faktor kematangan psikologis sangat berperan penting dalam mempengaruhi etika remaja berkendara. Usia remaja adalah golden age (masa keemasan) dimana mereka masih dalam proses pencarian diri yang cenderung ingin menonjolkan diri mereka dan masa remaja menurut Erickson adalah masa storm and stress, dimana mereka sering berhadapan dengan gejolak perasaan yang labil dan tingkat depresi yang tinggi, sehingga kontrol emosional nya belum baik dan sering kali membawa remaja lari dari masalah dan memilih kepada perilaku-perilaku negatif seperti melampiaskan amarah dengan mengebut di jalan, berkendara tidak sesuai standar dan tidak memperdulikan hak orang lain di jalan.

Kata Kunci      : life style, trend, golden age, storm and stress.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
                      Banyak pengguna jalan yang tidak mematuhi peraturan berlalu lintas dengan baik. Kebiasaan dan etika dalam berlalu lintas masyarakat sangat buruk dan memprihatinkan. Tak salah apabila banyak ditemukan kasus kecelakaan akibat pengguna jalan yang tidak menaati peraturan dan hal tersebut banyak terjadi di kalangan pelajar/remaja. Remaja sekarang ini belum memahami etika dan aturan dalam berlalu lintas dengan baik. Dengan faktor psikologis yang kurang stabil sangat mempengaruhi etika remaja dalam berkendara. Pada masa remaja ini, mereka lebih mengedepankan sifat individualisme dan egoisme yang tinggi dan terkadang tidak memerdulikan hak orang lain di jalan. Tingkat pemahaman dan kematangan psikologis yang kurang matang di usia remaja sangat beresiko besar dan mempengaruhi hal-hal kecelakaan remaja saat berkendara. Dengan psikologis yang tidak stabil saat ini mereka sedang berada pada masa pencarian diri mereka sehingga sering kali mereka menunjukkan sikap ingin menonjolkan diri, semaunya sendiri, pemahaman yang kurang, dan kurang menghargai orang lain. Tak jarang apabila remaja ingin menunjukkan diri mereka agar dianggap hebat yaitu dengan ugal-ugalan, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi, perlengkapan sepeda motor yang tidak sesuai standar dll. Perilaku inilah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas di kalangan remaja. Kenyataannya remaja yang kurang matang dalam pola pikir lebih mengutamakan kepuasan diri sesaat tanpa berpikir resiko berat yang akan ia terima.
       
 Jumlah remaja yang mengendarai sepeda motor sudah sangat banyak, terutama anak sekolah. Mereka beranggapan bahwa mengendarai sepeda motor ke sekolah sangat efisien, tidak terlambat, lebih irit dan memudahkan dalam transportasi. Bahkan orang tua mereka pun malahan bangga apabila anak mereka lebih dulu memiliki motor ketimbang SIM. Namun, yang disayangkan adalah pemahaman mereka yang kurang pada etika berlalu lintas di jalan, yang mereka pikirkan adalah cepat sampai ke sekolah sehingga terkadang kurang mematuhi peraturan lalu lintas dan seenaknya sendiri di jalan tanpa menghormati hak orang lain dalam berkendara. Selain itu dari perlengkapan berkendara mereka saja banyak yang tidak sesuai standar dan hal tersebut disebabkan oleh rasa ingin tampil berbeda, merasa kolot apabila sesuai standar, dan pengaruh pergaulan yang kurang baik. Dengan mempertimbangkan efisiensi transportasi ke sekolah apabila menggunakan sepeda motor maka banyak orang tua yang tidak memberikan kontrol pada anaknya akan bahaya nya berkendara yang tidak sesuai aturan karena usia dibawah tahun atau perlengkapan berkendara yang tidak sesuai, hal tersebut sangat disayangkan mengingat keluarga adalah tempat penanaman nilai moral pertama kali pada perkembangan diri anak dan psikologisnya.
     
Perilaku menyimpang remaja tersebut yang menyebabkan angka kecelakaan semakin meningkat tiap tahunnya. Sikap dan perilaku menyimpang tersebut sangat menghawatirkan karena remaja adalah aset harapan bangsa. Seperti kata “Jika ingin melihat masa depan sebuah negara maka lihat pemudanya-pemudinya ” . Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal lagi karena kekayaan sebuah negara bergantung pada remaja itu sendiri.
Remaja amat penting dalam pembangunan negara. Runtuhnya remaja maka akan runtuhlah suatu negara. Dengan dasar itu pula, kami ingin mengetahui dan menemukan solusi dalam memecahkan permasalahan tersebut dengan mengangkat tema penelitian “Etika Remaja Dalam Berkendara”.


2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

a.       Penyebab remaja tidak menaati ketertiban lalu lintas
b.      Bagaimana upaya lembaga pemerintahan, pihak kepolisian, sekolah, keluarga dalam mengatasi persoalan tersebut ?
c.       Solusi agar kesadaran tertib lalu lintas dapat berjalan baik di kalangan remaja

3.      Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui dampak dan penyebab kurangnya kesadaran peraturan berlalu lintas bagi remaja
2.      Untuk menemukan solusi kesadaran akan pentingnya menaati peraturan lalu lintas bagi remaja
4.      Manfaat Penelitian
Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada masyarkat terutama para pelajar dan remaja dalam meningkatkan dan memelihara ketertiban dalam berlalu lintas, serta untuk menciptakan kader-kader penerus bangsa yang taat peraturan dan berwawasan kebangsaan. Dengan demikian dapat melestarikan tata tertib dan keselamatan berlalu lintas dengan baik.
















BAB II
KAJIAN DAN TEORI

1.      Tata Tertib dalam Berkendara
Aturan lalu lintas sendiri sebenarnya tidak hanya berwujud larangan tetapi juga berbentuk perintah, dilarang belok, dilarang parkir, dilarang menyalip atau dilarang berputar. Peraturan tersebut sebenarnya banyak sekali bisa berbentuk perintah, petunjuk, dan pemberitahuan karena wujud dari peraturan sebenarnya ada banyak sekali.

Permasalahan disini adalah karena kurangnya kesadaran dari masyarakat terutama remaja. Bentuk dari kurangnya kesadaran itu adalah pelanggaran.
Banyak peraturan dan hukum yang telah menetapkan tetapi remaja yang bersikap tak acuh nekat melanggar begitu saja atau sudah tahu tetapi tetap melanggar.

Banyak kejadian kecelakaan yang disebabkan karena perilaku remaja yang seenaknya sendiri berkendara tanpa mengindahkan tata tertib.
Kecelakaan lalu lintas sering kali disebabkan karena pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara itu sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat khusunya remaja melanggar lalu lintas dan tidak ada kesadaran yang ditunjang dengan pengetahuan yang luas tentang tata tertib lalu lintas.

Anak-anak remaja banyak yang mengganggap apabila berkendara dengan mematuhi tata tertib lalu lintas dianggap kolot padahal sebenarnya mereka tidak berpikir luas dan kedepan akan bahaya dan dampak yang akan dialami apabila melanggar lalu lintas. Karena, sejatinya peraturan dibuat untuk ditaati bukan dilanggar. Namun, paradigma masyarakat yang salah kaprah memutar balikkan slogan sehingga menjadi doktrin dan kemudian membudidaya menjadi watak yang sulit untuk dirubah, yaitu “Aturan dibuat untuk dilanggar”. Paradigma dan pemikiran masyarakat sudah sangat salah kaprah, mereka menganggap bahwa peraturan tidak penting untuk ditaati. Selain itu, lemahnya hukum dan ketidak bijaksanaan aparat pemerintah sendiri yang membuat masyarakat melunakkan segala hukum dan peraturan yang sudah ditegakkan. Banyak masyarakat percaya bahwa aparat polisi bisa disuap dll. Karena, ketidak bijaksannaan polisi sendiri seakan pemerintah membuat aturan dan itu dijadikan lahan keuangan bagi oknum-oknum nakal. Saat kepercayaan masyarakat pada aparat pemerintah telah pudar, maka pelanggaran tata tertib mulai merajalela. Banyak remaja berkendara nekat melanggar peraturan tata tertib berkendara karena hal tersebut.
Sehingga, dalam melestarikan tata tertib berkendara diperlukan kerjasama antara semua pihak demi terwujudnya budaya tertib berlalu lintas.

2.      Faktor-faktor pelanggaran
Faktor-faktor penyebab pelanggaran tata tertib di lalu lintas oleh remaja dibagi menjadi dua, yaitu faktot interen dan eksteren. Faktor eksteren antara sosial budaya, sosial ekonomi dan pendidikan serta wawasan. Sedangkan, faktor interen antara lain psikologis, motivasi, kesadaran, paradigma dll.
Dari beberapa faktor tersebut, faktor yang sering menjadi penyebab utama pelanggaran etika tata tertib berlalu lintas bagi remaja adalah faktor psikologis. Faktor psikologis sangat memperngaruhi etika remaja dalam berkendara, bagaimana sopan santun dia di jalan, moral dan kepatuhan dia pada tata tertib serta rasa respect kepada penggunan jalan lain akan tercermin saat dia berkendara. Psikologi dalam diri remaja tidaklah stabil, sehingga sangat sulit mengendalikan diri mereka ketika di jalan. Masa remaja, mereka sangat ingin dilihat, dikenal dan menonjolkan diri, mereka merasa bangga dengan mengebut dijalan, memodifikasi kendaraan yang membahayakan karena tidak sesuai standar, dan emosi jiwa yang kadang tidak baik sehingga mereka melampiaskannya dengan ugal-ugalan di jalan, karena ada rasa puas setelah mereka bisa melakukan hal tersebut. Disamping itu, mereka hanya bisa mengendarai motor tetapi tidak mengendarai motor yang baik dan sopan.
Yogadhita Gde perwakilan dari Badan Kesehatan Dunia alias WHO mencatat ada sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya. Dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia dengan rentang usia 10-24 tahun. “Tingkat fatalistik anak remaja menempati posisi kedua dalam usia kecelakaan,” bilangnya saat Konferensi Anak Indonesia tahun lalu.

Hal yang paling serius dalam menghadapi kondisi seperti ini adalah soal kesiapan si anak berhadapan dengan jalan raya. Karena tingkat kematangan dan pemahaman pada usia remaja tidak lah sebaik orang-orang dewasa, sehingga rasa kesiapan itu pun kurang dan sangat merugikan diri sendiri. Fenomena tingginya kecelakan pada remaja dapat diterangkan secara neurosains. Otak emosional yang belum terkontrol pada remaja merupakan penyebab utamanya. Otak manusia terdiri dari empat lobus, yaitu lobus frontal, lobus parietal , lobus temporal , dan lobus oksipital . Pada lobus frontal memiliki fungsi untuk memecahkan masalah, mempertimbangkan sesuatu, menghambat perilaku, merencanakan sesuatu, memantau diri sendiri, kepribadian, emosi, mengatur sesuatu, memperhatikan, berkonsentrasi, mental-flexibility, berbicara, awareness of abilities, mengendalikan diri, dan “melakukan sesuatu yang benar”. Kegiatan menyetir dapat dilakukan atas kerja pada otak bagian:

  • Korteks prefrontal merupakan daerah otak yang  paling terakhir mencapai kematangan. Bagian ini memegang kendali terhadap fungsi perencanaan, pengaturan, dan pengambilan keputusan. Perkembangan korteks prefrontal pada manusia berbeda-beda dan umumnya terjadi maksimal pada usia 25 tahun. Hal inilah yang menyebabkan remaja kurang memiliki kemampuan untuk menilai konsekuensi atau menyerap informasi, seperti orang dewasa pada umumnya.
  • Hipokampus yang terletak pada otak bagian tengah ini merupakan pusat pengaturan memori.
  • Amigdala yang juga terletak di otak tengah berfungsi sebagai pusat kendali emosi. Sebagian besar perilaku remaja dipengaruhi oleh amigdala sehingga mereka dapat bertindak secara irasional dan emosional. 
Sehingga beberapa hal yang membedakan otak remaja dan dewasa adalah :

  1. Emotional Rollercoaster dimana Amigdala berkembang pesat sehingga membuat pusat emosi teraktivasi berlebihan. Pada akhirnya, remaja berpikir dengan “emosi” mereka dan menganggap bahwa sesuatu dapat menjadi ancaman bagi dirinya.
  2. Sifat Impulsif. Sifat ini berhubungan dengan serotonin, yaitu neurotransmitter yang mengatur tidur dan rasa rileks seseorang. Pada remaja kadar serotonin dalam tubuh rendah sehingga seorang remaja dapat bersifat impulsif.
  3. Sifat Pengambil Risiko. Sifat ini berhubungan dengan dopamine, yaitu neurotransmitter yang mengatur mood dan perasaan senang. Kadar dopamine dalam tubuh remaja yang tinggi membuat remaja mengalami fase “hungry for stimulation” atau perilaku suka mengambil risiko. Pada remaja laki-laki, adanya hormon testosteron diketahui dapat memperkuat kinerja dopamine. Selain itu, 60% sifat pengambil risiko pada remaja ternyata dapat diturunkan oleh orang tua atau bersifat genetik.
  4. Kemampuan Penilaian. Istilah “The teen brain is like a race car without brakes (otak remaja seperti sebuah mobil balap tanpa rem)” memiliki maksud bahwa remaja memiliki kemampuan penilaian yang buruk sehingga dianggap tidak memiliki “rem”, sedangkan amigdala sebagai “bensin” dapat berfungsi maksimal. Perkembangan korteks prefrontal yang belum sempurna dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan, termasuk mempertimbangkan konsekuensi yang ada serta kurangnya kemampuan dalam menilai tindakan/ keputusan yang mungkin berbahaya.

Menurut Irjen Pudji Hartanto, Kepala Korprs Lantas Polri, pada tahun 2011 kematian anak akibat kecelakaan lalu lintas meningkat tajam. Peringkat pertama pada usia 5-29 tahun. Tingkat kedua pada usia 5-14 tahun dan peringkat ketiga 30-44 tahun.

3.      Bentuk-bentuk pelanggaran

1)      Mengebut di jalan
2)      Tidak memiliki SIM, STNK, STUJ (surat tanda uji kendaraan)
3)      Tidak mengenakan sarana prasaran yang lengkap
4)      Memodifikasi motor yang tidak sesuai standar
5)      Melanggar marka jalan
6)      Melanggar rambu-rambu
7)      Tidak menyalakan lampu sein, riting, lampu hazard
8)      Pelanggaran terhadap ketentuan dan muatan yang diijinkan
9)      Berkendara dalam keadaan mabuk, telpon, sms dan berbicara
10)  Belum terampil dalam berkendara (frekuensi tertinggi adalah 0-18 bulan setelah kepemilikan SIM)
11)  Mengebut di jalan raya (yang dilakukan oleh 38% remaja laki-laki dan 25% remaja perempuan)
12)  Menumpang pada teman sebaya (nebeng)
13)  Menyetir pada malam hari (pada Pk. 21.00-Pk. 06.00)
14)  Menyetir dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan
15)  Kondisi kendaraan yang tidak baik (sabuk pengaman yang tidak memadai atau mobil lama/old car)
16)  Menggunakan telepon seluler pada saat menyetir (memiliki risiko 4x untuk terjadi kecelakaan).


4.      Upaya

Bagi pihak pemerintah, diharapkan secara tegas menindak lanjuti terhadap para remaja yang melanggar ketertiban lalu lintas.
Pihak polri harus tegas dengan tidak menerbitkan SIM sebelum usia 17 tahun, karena hal tersebut sangat beresiko tinggi serta harus di tindak lanjut tegas bagi para remaja yang melanggar tata tertib.
Diharapakan DISHUB akan sering memberikan penyuluhan dan acara seminar serta pemilihan pelajar Pelopor keselamatan berlalu lintas demi melestarikan budaya tertib lalu lintas dan juga senantiasa menyediakan fasilitas bagi pengguna jalan yang memadai.
Pihak polri, dishub juga diharapkan berkerja sama dengan Diknas untuk memberikan kurikulum Safety Riding sebagai pembelajaran sejak dini tentang tertib berlalu lintas.
Penanaman karakter sadar hukum dan tata tertib pun harus ditanamkan pertama kali dan sejak dini oleh pihak keluarga sebagai penanaman karakter yang baik dimasa depan, selain itu diharapakan orang tua tidak memberikan motor sebelum anak mereka usia 17 tahun. Apabila, usia anak sudah memenuhi syarat untuk mendapat SIM dan ingin untuk bisa mengendarai kendaraan maka harap orang tua memasukkan nya kepada Riding Course supaya mereka berkendara secara tertatur dan terarah dan jangan sampai mencoba-coba berlatih sendiri tanpa didasari teori dan praktek yang mendasar dan pasti. Orang tua juga harus dekat dengan anak sehingga bisa memantau segala aktifitas anak untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Kesadaran tertib berlalu lintas harus dimulai dari diri sendiri dimana di masa remaja adalah masa transisi dan masa dimana pencarian jati diri walau emosioanal kadang tidak dapat stabil maka diharapkan untuk menangani kelabilan perasaan itu bisa mendekatkan dengan Tuhan YME, memperdalam ilmu agama, sadar hukum, niat dan motivasi yang kuat, menaati tata tertib, mengisi kegiatan yang positif seperti ikut organisasi dan menyalurkan hobinya ke arah positif dan prestasi untuk menghindarkan dari perilaku negatif dan membuang-buang waktu.


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Waktu dan tempat penelitian
Penelitian yang berjudul “Etika Remaja Dalam Berkendara” di Kota Salatiga ini dilakukan pada tanggal 18 April 2013 di sepanjang Bundaran sampai Pasar Blauran.

B.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi merupakan sekelompok orang, benda atau objek yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sumber pengambilan sampel. Dalam penelitian ini populasinya meliputi beberapa siswa SMP dan SMA di kota Salatiga.

2.      Sampel
Sampel adalah bagian kecil yang mewakili kelompok atau keseluruhan yang lebih besar. Pada penelitian ini diambil sampel :

SMA : 2 Orang
SMP : 1 Orang


C.     Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, metode kualitatif dilakukan dengan cara :
1.      Observasi lapangan
2.      Pengumpulan dara
3.      Wawancara
4.      Library Research (Internet)
5.      Dokumentasi

1.      Observasi Lapangan
Observasi langsung dilakukan dengan cara mengunjungi jalan raya di Kota Salatiga.
Adapun alat dan bahan untuk menjalankan prosedur kerja yang akan dilakukan dalam melakukan observasi langsung adalah sebagai berikut :
1. Camera Canon A2200

2.      Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengumpulan foto-foto hasil pengamatan di Bundaran sampai pasar blauran dan data wawancara.

3.      Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab antara dua orang atau lebih dengan maksud untuk menggali informasi baik berupa fakta atau pendapat seseorang untuk tujuan tertentu.

4.      Library Research
Kajian pustaka yang dilakukan adalah mengambil data dari buku-buku terkait mengenai remaja dan lalu lintas serta mengunjungi website-website penyedia informasi mengenai lalu lintas.

























BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
Hasil penelitian dari kelompok kami menyatakan bahwa etika remaja dalam berkendara di kota salatiga masih banyak yang didapati melanggar dan dari hasil wawancara dengan 2 murid SMA di Salatiga, mereka menyatakan bahwa di sekolah mereka bisa kurang lebih 60 anak yang belum mendapatkan SIM tetapi sudah mengendarai motor ke sekolah dan juga ada sekitar kurang lebih 40 anak yang motor mereka tidak sesuai standar.

B.     Pembahasan
Berdasarkan observasi yang telah kami lakukan ternyata sebagian pelajar SMA di kota Salatiga banyak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kerugian pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Pelanggaran-pelanggaran tersebut antara lain; tidak memiliki SIM, tidak memakai helm SNI, motor di modifikasi, nomor polisi tidak asli, tidak memakai helm, melanggar marka jalan, tidak menyalakan lampu, tidak menyalakan riting saat mau membelok, menyalip dari sebelah kiri, telepon saat berkendara, ugal-ugalan di jalan, menerobos lampu merah.
Hal-hal seperti itu sangat merugikan bagi pengendara lain dan memicu adanya kecelakaan lalu lintas.

Kurangnya kesadaran dalam berlalu lintas tersebut dapat menimbulkan beberapa dampak dan penyebab, diantaranya sebagai berikut.
1.      Dampak Pelanggaran Lalu Lintas
Tentunya dari permasalahan yang terjadi pada remaja berkendara telah menimbulkan berbagai masalah khususnya menyangkut permasalahan lalu lintas. Permasalahan tersebut, seperti:
1)      Kecelakaan dan kematian akibat berkendara tidak beraturan dan disebabkan juga karena kelengkapan berkendara yang tidak sesuai standar sehingga berakibat fatal saat kecelakaan.
2)      Tindakan kriminalitas oleh remaja yang disebabkan ugal-ugalan remaja seperti balapan liar dll yang akhirnya menyeret orang tersebut ke ranah hukum dan menghancurkan masa depannya sebagai anak bangsa.
3)      Kebiasaan melanggar lalu lintas yang biasa kemudian menjadi budaya melanggar peraturan.
4)      Moralitas remaja rusak karena tidak adanya kedisiplinan, keperduliaan dan sikap keteraturan dalam pola hidup karena terbiasa melanggar peraturan.
5)      Tidak hanya merugikan diri sendiri namun keselamatan pengguna jalan lain juga terancam.

2.      Penyebab Terjadinya Pelanggaran Lalu Lintas
Tingkat kecelakaan terbesar adalah pada usia remaja. Dimana mereka tidak memiliki kematangan dan kesiapan untuk berada di jalan raya. Berikut beberapa hal yang mungkin menjawab penyebab rendahnya kesadaran akan mematuhi peraturan lalu lintas:
1.      Minimnya pengetahuan terhadap Tertib Lalu Lintas
Banyan remaja bisa mengendarai motor tetapi tidak tahu mengendarai motor yang benar dan baik seperti peraturan lalu lintas, arti dari marka, dan rambu-rambu lalu lintas. Dimana jika mereka ingin memperoleh SIM maka harus mengikuti tes yang di selenggarakan oleh kepolisian namun banyak remaja yang memilih jalan pintas, asal cepat dapat, yaitu dengan menembak atau cara-cara illegal lainnya. Sehingga kemampuan mereka dalam berkendara menjadi pertanyaan. Bahwasannya, SIM adalah kompetensi bukan sebuah syarat. Disamping itu, mereka juga tidak memiliki kesadaran rasa ingin tahu terhadap peraturan lalu lintas dan cenderung apatis sehingga melanggar peraturan.
2.      Kebiasaan melihat pelanggaran dan tidak ada arahan dari orang tua
Kondisi inilah yang sangat mencemaskan, dimana orang tua lah fasilitator pertama dalam perkembangan mental spiritual anak. Saat mereka kecil, mereka sudah melihat orang tuanya melanggar peraturan atau melihat orang lain melanggar peraturan dan tidak ada pengarahan dari orang tua mereka.
3.      Kelengkapan berkendara hanya sebagai formalitas
Memakai kelengkapan bersepeda motor hanya karena ada operasi gabungan bukan kesadaran dari dalam diri sendiri itu adalah alat penyelamat mereka dalam berkendara.
4.      Tidak memiliki pandangan ke depan
Banyak remaja yang masa bodoh dengan peraturan yang telah ditegakkan karena mereka hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan sesaat, seperti sikap hedonisme. Mereka tidak memikirkan hal-hal fatal akibat pelanggaran tersebut dan tidak memiliki visi ke depan akan motivasi mewujudkan perubahan dimulai dari diri sendiri yang dapat membawa perubahan untuk bangsa dan negaranya.












BAB V
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Perilaku remaja terkenal dengan perilakunya yang tidak aman dan tidak tertib. Seperti mengemudi lebih dari dua orang, memodifikasi motor yang tidak sesuai standar, tidak memakai kelengkapan berkendara, tidak memiliki SIM dll.

Dimana masa remaja mereka masih sangat ingin mengespresikan diri mereka terhadap hal-hal baru tanpa ada pengarahan khusus dan pemahan yang mendasar.

Banyak kecelakaan terjadi pada remaja dan etika remaja dalam berkendara yang tidak mengindahkan aturan, dapat menjadi bayangan suram akan masa depan bangsa ini sendiri. Dimana, kesuksesan bangsa dan negara tergantung pada pemudanya.

B.Saran
Perlunya penanaman etika berlalu lintas atau pendidikan berlalu lintas sejak dini, karena daya rekam anak masih tinggi dan peka serta anak – anak itu memiliki potensi yang luar biasa.
















0 komentar:

Poskan Komentar

Back to Top